Showing posts with label Motivator. Show all posts
Showing posts with label Motivator. Show all posts

Friday, January 16, 2009

Lenka, such a beautiful name

Well, 2 months ago, I knew when my heart stop beating. Just walkin' around the Obade cafe - Bali, the beautiful song just play around..DAMN !! I should know who's the lady-heart-melt-killer (hehe). And, no time to find it. Until , Istara remind me again. Hmm, asking my old partner at "Old Radio" (thks Ilham). She's the gorgeous one, named LENKA with Trouble Like a Friend.

You know that I'm so curious, really BIG "want to know" who is she.
Her vocal stylings offer a juxtaposition of catchy pop and layered, complicated world music influences. This juxtaposing is of late current in the popular music, spreading through the internet. Similar layering exists in the music of the anti-folk Russian-born New York City-based musician Regina Spektor. She was born in New South Wales, Australia but now lives in Los Angeles...

the "cool" lyrics..

Trouble will find you no matter where you go, oh oh
No matter if you're fast, no matter if you're slow, oh oh
The eye of the storm wanna cry in the morn, oh oh
You're fine for a while but you start to lose control

He's there in the dark, he's there in my heart
He waits in the wings, he's gotta play a part
Trouble is a friend, yeah trouble is a friend of mine
Ahh..

Trouble is a friend, but trouble is a foe, oh oh
And no matter what I feed him he always seems to grow, oh oh
He sees what I see and he knows what I know, oh oh
So don't forget as you ease on down my road

He's there in the dark, he's there in my heart
He waits in the wings, he's gotta play a part
Trouble is a friend, yeah trouble is a friend of mine
So don't be alarmed if he takes you by the arm
I roll down the window, I'm a sucker for his charm
Trouble is a friend, yeah trouble is a friend of mine
Ahh..

How I hate the way he makes me feel
And how I try to make him leave
I try, oh oh I try

But he's there in the dark, he's there in my heart
He waits in the wings, he's gotta play a part
Trouble is a friend, yeah trouble is a friend of mine
So don't be alarmed if he takes you by the arm
I roll down the window, I'm a sucker for his charm
Trouble is a friend, yeah trouble is a friend of mine

Nice lyrics, and "too deep" isn't it ?
the point is...all people having their own problems, trouble (or anything you named it). It just one lesson "How you handle it well" Even, with sophisticated, cross jumping, or just leave it. 'Coz trouble is really like a friend. We make it better, it could be closer. And we make it danger, it could be more harder...

:) I'm not kind a good spoke person... hopefully you enjoy "your trouble self"
Just find a simple and the best way to handle it
Peace out...



ps: click the "beautiful image" to play the song

Wednesday, October 8, 2008

LENTERA JIWA (sebuah jawaban)

"Bang Andy berani keluar dari Metro TV dan mengejar Lentera Jiwanya karena Bang Andy sudah mapan secara finansial. Tapi bagaimana dengan mereka yang jangankan untuk mengejar Lentera Jiwanya, untuk makan sehari-hari saja sudah setengah mati. Seandainya Bang Andy belum mapan, apakah Bang Andy juga berani keluar dari Metro TV untuk mengejar Lentera Jiwa Bang Andy?"

Itu salah satu komentar pembaca menanggapi tulisan saya "Lentera Jiwa" di Andy's Corner beberapa waktu lalu. Komentar senada juga tak kalah banyak. Sebagian bahkan menganggap di jaman susah seperti sekarang ini, bisa mendapat pekerjaan saja sudah harus bersyukur. Boro-boro mengejar "Lentera Jiwa". Bayu, seorang anak muda yang bertugas di imigrasi Bandara Soekarno-Hatta, setelah melihat nama di paspor saya wajahnya langsung berubah sumringah. Senyumnya melebar dan matanya menatap saya dengan pandangan berbinar-binar (setidaknya itu yang saya rasakan). Dia mengaku senang bertemu saya. Sebab, katanya, setelah membaca tulisan 'Lentera Jiwa', ada pertanyaan yang mengganggu pikirannya.

"Saya ikut senang Pak Andy sudah menemukan Lentera. Cuma saya masih penasaran, apakah setiap orang akan menemukan lentera jiwanya?" Ujar Bayu penuh semangat. Dalam percakapan singkat saat ketika saya hendak ke Boston itu, Bayu bercerita dia membaca tulisan "Lentera Jiwa" yang saya tulis itu melalui milis yang dikirim ke alamat emailnya. Pertanyaan Bayu itu tidak sempat saya jawab. Saya sudah harus berangkat sementara dia juga sudah harus memeriksa paspor penumpang lain.

Di atas pesawat, pikiran saya masih terganggu oleh pertanyaan Bayu. Apakah setiap orang akan menemukan Lentera Jiwanya? Pertanyaan yang seakan mewakili pertanyaan banyak pembaca tulisan "Lentera Jiwa". Memang, setelah tulisan itu saya muat di Andy's Corner, entah siapa yang memulai, dalam tempo singkat tulisan tersebut beredar dari milis ke milis, ke berbagai alamat email, dan akhirnya berbalik ke saya
melalui email, sms, bahkan facebook.

Tanggapan atas tulisan itu macam-macam. Sudut pandangnya juga berbeda-beda. Setiap orang memberikan tanggapan sesuai persepsi masing-masing. Sungguh menarik. Bahkan ketika saya menjadi tamu di sebuah radio di Kemang, yang mengangkat topik soal Lentera Jiwa, tanggapan yang masuk juga beraneka ragam.

Sebagian pendengar mengatakan dalam hal pekerjaan, mereka lebih mencari "aman" dengan menjadi karyawan di sebuah karena risikonya lebih kecil. Sementara pendengar lain mengaku lebih memilih berwirausaha daripada bekerja untuk orang dan tidak bahagia. Lentera jiwa oleh mereka dimaknai sangat sempit: Siapa yang bekerja untuk dirinya sendiri, merekalah yang sudah menemukan lentera jiwanya. Sementara mereka yang bekerja sebagai pegawai di perusahaan, adalah mereka yang belum menemukan lentera jiwanya.

Menerjemahkan lentera jiwa secara sempit seperti itu sungguh menyesatkan. Lentera jiwa seseorang tidak ditentukan oleh apakah dia bekerja untuk orang lain sebagai karyawan atau bekerja untuk dirinya sendiri. Lentera jiwa seseorang juga tidak ditentukan oleh jabatan, pangkat, gaji, atau jenis pekerjaan. Siapa pun dia, apapun pangkatnya, jabatannya, dan apapun jenis pekerjaan serta berapa pun gajinya, dia bisa saja menemukan lentera jiwanya.

Pangkat tinggi, posisi di puncak, dan gaji besar bukan ukuran yang dipakai untuk menilai apakah seseorang sudah menemukan lentera jiwanya atau belum. Banyak yang yang memiliki kedudukan tinggi, gaji bedar, ternyata tidak bahagia dalam pekerjaannya. Kalaupun dia tetap bertahan, lebih karena faktor rasa aman, tidak berani mengambil risiko, atau sudah pada tahap "nrimo" atas nasibnya. Orang semacam ini belum menemukan lentera jiwanya.

Ukuran yang paling sederhana untuk mengukur apakah dalam bekerja, dalam berkarir, kita sudah menemukan lentera jiwa kita atau belum adalah kebahagiaan. Apakah dalam mengerjakan tugas kita sehari-hari kita bahagia? Tidak perduli apakah kita bekerja sebagai karyawan atau wirausaha, apakah kita bahagia? Tidak perduli gaji kita kecil atau besar, apakah kita senang mengerjakan tugas yang diberikan kepada kita? Apakah
kita mengerjakannya dengan hati atau sekadar demi mempertahankan hidup?

Suatu malam, menjelang toko-toko tutup di sebuah mega mall di Jakarta, saya ke toilet. Ruangannya bersih dan harum. Ada dua petugas cleaning service sedang bekerja. Mereka begitu ceria, begitu riang. Padahal di tengah malam itu hampir semua orang sudah kehabisan enerji. Kok mereka masih bersemangat? Karena penasaran, saya bertanya kepada mereka mengapa terlihat ceria. Bukankah pekerjaan membersihkan
toilet pekerjaan yang tidak menyenangkan? Mereka balik menatap saya dengan pandangan aneh. "Kami senang kok mengerjakannya," ujar salah satu dari mereka.

Beberapa hari kemudian, seorang pembaca Andy's Corner memberi komentar tentang tulisan "Lentera Jiwa". Isinya kurang lebih begini, "Pak Andy, saya bekerja sebagai office boy. Saya bahagia mengerjakan tugas-tugas saya karena saya bisa melayani orang lain. Saya sudah menemukan Lentera Jiwa saya".

Dua kisah di atas mungkin bisa menunjukkan lentera jiwa itu bukan milik mereka yang berkedudukan tinggi atau bergaji besar. Jika Anda bekerja sebagai pegawai negeri dan Anda bahagia mengerjakan tugas-tugas Anda, dan pekerjaan itu sesuai dengan cita-cita Anda sewaktu sekolah dulu, boleh jadi Anda sudah menemukan lentera jiwa Anda. Begitu pula Anda yang keluar dari pekerjaan Anda sebagai karyawan, dan mengambil risiko meninggalkan kedudukan dan gaji tetap Anda, untuk merintis usaha yang Anda sukai dan
ternyata membuat Anda bahagia , bisa jadi Anda juga sudah menemukan lentera jiwa Anda.

Kembali ke pertanyaan Bayu tadi, apakah setiap orang bisa menemukan lentera jiwanya? Jawabannya relatif. Ada yang sudah tahu lentera jiwanya ada di tempat lain, bukan di tempat dia bekerja sekarang, tetapi dia tidak berani atau tidak mampu menggapainya. Tidak mampu atau tidak berani karena risiko yang dihadapi terlalu tinggi. Boleh jadi karena dia harus memikirkan keluarga, anak, istri, atau suami. Memikirkan orang-orang yang secara finansial bergantung padanya. Jika dia meninggalkan pekerjaan yang sekarang untuk mengejar lentera jiwanya, bisa jadi dia bahagia tetapi orang lain tidak.

Ada juga yang sampai sejauh ini belum mengetahui secara persis apa lentera jiwanya. Dia belum menemukan pekerjaan apa yang dapat membuatnya bahagia dan bergairah untuk menjalaninya. Ada juga yang karena tidak ada pilihan. Sudah mendapat pekerjaan yang sekarang saja sudah patut disyukuri. Boro-boro mengejar lentera jiwanya.

Lentera jiwa bukan persoalan salah atau benar. Tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar di sini. Persoalannya hanya pada keinginan kita untuk mencari kebahagiaan sebagai manusia. Dalam hal ini konteksnya adalah pekerjaan dan karir. Namun untuk mencapai kebahagiaan tersebut kadang seseorang harus menempuh risiko.

Risiko itulah yang juga saya tempuh ketika harus memilih apakah bekerja untuk Majalah TEMPO yang sudah besar atau menjadi reporter di koran Bisnis Indonesia yang baru diterbitkan. Juga ketika memilih pindah ke Majalah MATRA justru pada saat karir saya di Bisnis Indonesia sedang menanjak pesat. Bukannya jantung istri saya tidak mau copot ketika saya memutuskan pindah dari MATRA, dalam posisi menuju pemimpin redaksi, ke harian Media Indonesia yang baru bangkit setelah harian Prioritas dibreidel.

Pada saat itu, jangan ditanya soal finansial. Secara finansial saya jauh dari mapan. Apalagi saya harus membantu kehidupan kakak-kakak saya. Tetapi ada sesuatu dalam hati ini yang selalu menganggu. Sesuatu yang terus mendorong saya untuk mendapatkan ''sesuatu''. Sesuatu yang membuat saya merasa bahagia. Mungkin itu yang kini saya sadari , bahwa "sesuatu" itu adalah "Lentera Jiwa" saya.

Nah, kutipan ANDY semoga bermanfaat buat Kamu...
Hmmmph, masih bingung ?? merasa belum menemukan ? atau jangan-jangan memang kita benar2 cari aman dan mengacuhkan Lentera Jiwa kita itu ?? Semua terserah ANDA !!!


*)klik banner ANDY, untuk source berita

Lentera Jiwa - Andy F. Noya (1)

Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena 'pecah kongsi' dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan 'power' yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.

Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.

Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. ''Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.''

Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese.Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka
tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.

Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya 'dipindahkan' oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama.

Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.

Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari 'keju' itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin
mengikuti 'lentera jiwa' saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri.

Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul 'Lentera Jiwa' yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang.

Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa 'lentera jiwanya' ada di ajang pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.

Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang -- dan membuat mereka tidak bahagia -- adalah karena mengikuti keinginan orangtua.

Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran sendiri. ''Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini,'' ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.

Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.
Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.

Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat
ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya. Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. ''Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya,'' ujar
Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. ''Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya. Hidup saya,'' katanya.

Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya.
Berbahagialah mereka yang sudah
mencapai taraf bekerja adalah berekreasi.
Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa
mereka.

Sengaja saya posting disini, tulisan bang ANDY di Andy's Forum yang sangat-sangat menginspirasi banyak orang. Dan membuat milis-milis sibuk membahas "Lentera Jiwa". Beberapa yang tercetak tebal, benar-benar menginspirasi semuanya, dan saya pribadi.

Friday, May 9, 2008

Meet The THREE Master

Well, if there's a day called 'bad day' ..
uhmm i think this is 'that' day for me

The story begin....

More than 1 weeks ago, I've got information Mr Rhenald Kasali bakal datang ke Surabaya. Jadi bintang tamu acara talkshow di Hotel JW Marriott yang bakal di pandu Andy “Kick-ANDY” F. Noya. Well, it's a good time for me, to meet him (them actually). Okay, akhirnya tanpa sungkan seperti biasa saya hubungi pak Rhenald. Awesome, he's AGREE at all dengan semua permintaan khusus saya untuk menemuinya.
D-Day is coming...Jumat 9 Mei 2008. Bakal nemuin pak Rhenald di Marriott pkl 12.30 after break session, during the talk show I mean. Sesudah ribet gara2 ban bocor (yg bikin Argghhh untuk diceritakan) akhirnya kecapekan. Istirahat bentar maksud hati, BUT ternyata molor se-jam (duh Gusti, susahnya istirahat lamaan dikit). Akhirnya bangun jam 13.00. DAMN !! Am I late ? of course !!! Saya Sms pak Rhenald ternyata beliau baruuu aja break, syukurlah. Karena sekalian janjian dgn manager Marketing kantor saya di event launching Lee Cooper di Tunjungan Plaza3, akhirnya saya pilih meluncur ke KFC Basuki Rahmat buat parkir, daripada masuk parkiran TP3 yang lebih ribet.
Sesudah sampai di parkiran KFC gelael-Basuki rahmat, I called her..
“Mbak Dimana...aku udah masuk TP1 nih...rekamannya kamu bwa kan? aku ditunggu Rhenald nih..”
“Langsung aja ke Hall, barengan aja ke Marriott-nya, tapi rekaman apa??” kata manager marketing-ku tanpa dosa.
“Loh, yang dititipin Supervisor-ku, kan tadi katanya kamu bawa, sms kamu tadi....”
“Ehhhh, aku tu gak sms kamu. lagian alat rekam apa...gak tau...”
Wah-wah-wah...setelah saya cek, ternyata saya salah baca sms. Ternyata IC Recorder (nama alat perekam-sialan itu) dititipin ke teh Novri my Librarian. Hikssss, sudah macett (jam 12 siang jalan Basuki Rahmat SeLALU macet gila-gilaan), susah dapat posisi parkir yang PEWE. Ehh harus balik lagi ke kantor, wah..bisa ancur jadwal janjian dgn pak Rhenald..Lagian siapa saya, seenaknya ngolor-ngolor waktu buat ketemuan...hehe
AKHIRNYA telpon bantuan datang juga;
“Ya udah, aku anterin deh..tungguin ya..” :) terharu mendapatkan bantuan yang tak terduga.hehe, teh Novri janji anterin ke Marriott, sembari Saya meluncur lebih dulu buat nemuin pak Rhenald.
Sampai di Marriott, check tas, body sensor, akhirnya menuju ke Lounge, dan janjian di Resto lt 2 dekat lift, sesuai petunjuk sms pak Rhenald yang saya terima. Ehm, ketemu...after ice breaking with chat little something, I think he's the smart-humble-welcome-person...sambil mempersilahkan saya ikut makan, saya tolak dengan alasan klasik sudah makan (meskipun perut ini ingin berkata jujur spt kata AA GYM, karena sebenarnya lapar dan sedikit feel tasty liat appetizer yang dilahap pak Rhenald). Saya bilang, alat perekam masih on da way, karena low batt. Dag-dig-dug hati ini nungguin mbak Novri, 1 menit – 5 menit – 10 menit..duhh waktu terus berjalan, tapi teh Novri belum muncul juga. 25 menit – 30 menit..akhirnya sesudah 47 menit datang juga (rutin pantau jam hp..hihihih). Tergopoh-gopoh, teh Novri memberikan IC Recorder titipan itu...dan SIAUL !! saya gak paham pengoperasian alat ketjil-jahanam itu. Karena ketemu mas EDDY (thk for help) dari divisi portal web kantor saya, akhirnya minta bantuan dia. Dan ternyata “Wah, aku juga gak bisa Rhen...” Gubrak..!!
Sambil dia mengutak-atik plus bumbu bingung inside, saya semakin gelisah karena ternyata pak Rhenald harus segera ke bandara, langsung balik ke Jkt. “Rhen...gimana, saya tunggu loh..AYO “ kata pak Rhenald. Duh, saya semakin amburadul-gelisah-degdegserr-keringat dingin karena IC Recordernya low batt. It means, I have to go to find someone who help me, dengan tema “Bisakah membelikan baterai buat saya?? please” (*Wajah memelas;mode ON
Ternyata teh Novri lagi-lagi jadi my Saviour..(again) menawarkan mencari bantuan, dan akhirnya dapat sepasang baterai A3 seharga 25ribu. Gila, padahal diluaran cuma 8000. (Upss lupa, ya iyalah...di HOTEL, jadi Nothing cheaper dong) Akhirnya mas EDDY bisa menyalakan, dan siap tinggal pencet start RECord.
wasss-wess-wosss-wasss...pak Rhenald dengan kepandaiannya memberikan tipsnya seperti yang saya pandu...after photo session (of course I'm doing well, hehe. sesuatu yg dulu jarang saya lakukan, meskipun ketemu artis2 hiburan ibu kota,hehe bhs baliho banget yak).
Dengan senang hati-gembira ria, nyamperin mas Eddy lagi di lobby lt 2. Nyalain my lovely EEE Asus, ngecek hasil rekaman..”Loh-loh-loh, mana ya...ehmm, Loh, tapi...” Hampir setengah jam utak-atik EEE-ASUS ternyata SAUDARA-SAUDARA, FILE SAYA TIDAK ADA. NOT FOUND...YAk...selamat dan sukses dah...BADAN saya langsung lemas-lunglai. Sumpah, saya sudah capek-ribet dan pastinya MALU. Bagaimana bisa tdk kerekam, ternyata meskipun recording timer berjalan, tapi malah ngrekam radio dgn bunyi “Zzzzzzzzz...zzzz..zzz”
ANCURRR hidupku...Ancurr !!!
Mana mungkin bisa janjian dg pak Rhenald lagi. Lagian belum tahu kapan jadwal dia mampir ke Sby lagi...why me Lord..how could this happen to me (* singing mode ON

Setelah di 'semangati' lagi sama teh Novri. Akhirnya ganti sasaran, ternyata 'Bapak' saya pak Andrie Wongso juga ada di acara ini. Thks GOD you save me...saya cari dia. Menjelaskan program acara saya TITIK NOL., dan bapak selalu paham (dengan cepat tentunya). Mau rekam, Biatch !!! Recordernya MATI. (Tuhan, datang lagi kah cobaan-MU), ngeles dikit ke pak Andrie untuk mengulur waktunya nunggu saya, saya minta bantuan berlari lagi ke Lobby menuju mas EDDY. Sesudah ON saya balik lari lagi ke venue .Tapi karena pak Andrie sangat terburu-buru, dia janji mau kirim CD spesial sesuai permintaan saya. hehe pak Andrie bilang, "susah saya nolak kamu yang selalu gigih". Saya nyengir kuda dikit...Karena beliau ada acara lagi, asistennya mengajak janjian ketemu di MARRIOTT lagi jam 21.00 buat ngobrol-ngobrol sama pak Andrie Wongso. Yahh, harus saya reject karena jadwal On air saya jam 22.00 ..hikssss
Hmpph, teh Novri masi sempat ngingetin saya (selalu deh rasanya) untuk bisa ketemuan ANDY F NOYA. Ternyata pas banget dia nenteng koper, mau pamitan pak Andrie Wongso. Akhirnya tidak saya sia-siakan ketemu dengan pemandu talk show bermutu ini (catet ya, banyak talk show murahan di Indonesia yang harus ber guru di acara KICK ANDY, soal mutu tentunya). Sambil mengundang pak Andy untuk suatu hari nanti mampir ke tempat saya bekerja, dia antusias..barter no hp...dan akhirnya pamitan, berpisah krn dia juga terburu-buru dengan jadwal flight-nya.

Ehmm, akhirnya tuntas juga pertemuan dengan the Three Musketeer/Master itu, semuanya serba singkat, tapi sangat berkesan dan MEMBUAT SAYA HARUS PAHAM karena menjadi PROSES PEMBELAJARAN...yang salah tentunya tidak boleh terulang lagi...
the End...


thks to
teh Novri as the Saviour
mas Eddy as the Help Solver

Wednesday, February 6, 2008

Kafi Kurnia; Tertawa, ilmu dan Gayanya


"Skr saya jln dr Hyatt...Tlg di SMS alamat SSFM...Thanks"

Sms singkat saya terima, 5 feb Selasa lalu. Sore itu Saya sudah janjian bakal 'menyambut' kedatangan pak KAFI Kurnia, di kantor. Beberapa hari sebelumnya, memang sempat janjian, sekalian karena malamnya beliau hadir di acara seminar Asosiasi Manajemen Indonesia di Hotel Singgasana, membahas Marketing ala Feng Shui.
Harum...hehe. Kalo gak salah, aroma parfum Kenzo, dipadu Polo shirt hitam, dark blue jeans, brown shoes LV, dan jam tangan 'bermerk' (gak sempat lirik merek-nya hehe). Menjabat tangan dengan antusias, dan langsung diajakin tim Promotion keliling ke gedung 'baru'. Sesudahnya Saya tunggu dia lantai 2, ruang on-Air. Saya antarkan pak KAFI, untuk 'mengudara' 40 menit di SS. Sekalian, dia kasih buku berjudul Lumpur Similiar, yang diterbitkan AKOER (perusahaan penerbitannya). Selesai on air dengan tawa khas renyahnya, kami ngobrol-ngobrol. Sampai, keinginannya 'mengajak masyarakat Indonesia menumbuhkan budaya membaca yang sudah jarang ada. Juga keinginannya untuk terus menerbitkan buku-buku berkualitas, bukan hanya buku satir dan kontroversial saja. Tapi benar-benar buku berkualitas dan punya nilai sastra, pendidikan, dan budaya yang tinggi. Sungguh impian yang buat salut. Sampai titik 17.05, dia harus kembali ke Hotel Hyatt tempatnya menginap, prepare untuk acara di Hotel Singgasana
Soal cerita lengkap On-Air klik disini..

05 Februari 2008 18.30
Meski gerimis, saya meluncur. Sebelum masuk acara inti, biasa..
urusan perut is Number ONE. Disediakan dinner dengan beragam menu. Ingat omongan Jean-Paul Gaultier, 'Ne mangent pas faire lorsque vous regardez si méchant' Artinya don't eat when make you look so nasty, alias kalo kita mau tampil dan bertemu orang penting, jangan ambil hidangan yang bisa merusak penampilan dan bikin gak PD, kaya nyelip di gigi, belepotan di mulut, keringetan, dsb. Okelah, saya patuhi anjuran itu. Ambil sedikit nasi putih, Daging asap bumbu kecap, Udang goreng bumbu merah, Sambal goreng kentang, tmabah krupuk. Semua dalam porsi sedang. Dilanjut pudding coklat 2 lapis, dan irisan pepaya. Dinner saya tutup fresh-water, dan langsung menuju ballroom Hotel Singgasana, ke acara inti.
Sesudah bla-bla-bla panitia acara, kuis sponsor, dsb. Acara inti dimulai. Masih dengan tampilan yang sama seperti sorenya pas mampir di SS, hanya ditambah balutan blazer yang melawan dinginnya AC ruangan (Sial, sumpah adem banget) muncullah sosok pak KAFI dari balik panggung, masih nampak fresh tanpa raut lelah. Melintas di meja saya, ternyata beliau masih ingat saya, sambil memandang dan tersenyum tanda sapaan. menyapa.

Tema
Marketing ala Fengshui, selain faktor kehadiran sosok pak Kafi, sebenarnya lumayan menggelitik dan itu alasan Saya hadir, di acara kalangan pebisnis dan Bos besar di Surabaya ini. Percaya atau tidak, itu yang selalu ditekankan pak Kafi soal ilmu Fengshui yang sebagian orang menganggapnya sebagai ilmu klenik, padahal BUKAN
Sedikit soal Fengshui, bisa dilihat disini.
Dari materi yang disampaikan pak Kafi (atau malah obrolan tepatnya, karena gayanya santai dan lugas, seperti ngobrol sama kawan), mata ini tidak terpejam sedikitpun. Padahal saya suka ngantuk-ngantuk ayam, kalo ikut seminar, gak betah !!
Diawali dengan beberapa bukti, betapa FengShui sudah sangat membudaya di lingkungan kita. Seperti bank Mandiri yang mengganti logonya, ceritanya disini. Sampai juga tips untuk memperbaiki unsur Chi yang buruk, kalau di kamar tidur terasa panas, jangan memasang jam dinding yang besar karena memberi pengaruh Chi negatif. Jadi diganti jam digital saja, nice tips!
Selain itu, ada
5 Aspects of a Good Life:
- Destiny (tujuan) / Karma
- Luck
- FengShui / Environment
- Virtue / Character
- Knowledge / Skills Experience
Ada juga,
faktor penting dalam 5 Lapis Kebahagiaan;
- Luck
- Prosperity (usaha sukses)
- Longevity (umur panjang)
- Happines (kebahagiaan)
- Wealth (kesehatan)



Juga sambil promosi bukunya yang terbaru, BIANG PENASARAN. Buku yang rasanya HARUS segera saya beli, T-O-P dah. Gambar sampul yang menggelitik juga akhirnya terjawab:
-
See No Evil : Jangan melihat hal-hal yang buruk
-
Hear No Evil : Jangan mendengarkan hal-hal yang buruk
-
Speak No Evil : Jangan berkata hal-hal yang buruk
Dan juga masih banyak ilmu yang saya peroleh, tentang strategi berperang di dunia, menghadapi pasar yang semakin menggila ini. Unsur Fengshui believe it or not, memang bisa diterapkan dalam dunia persaingan. Well,
pak Kafi sosok yang humble, ramah, dan suka ketawa ngakak-lepas. Gaye betawinye kental, hehehe. Terimakasih atas kesempatannya, semoga di lain waktu bisa jumpa lagi. Dan maaf sering ngrepoti, membangunkan pagi-pagi, ditelpon untuk kasih tips Wawasan.

Blog pak KAFI: disini

Thursday, January 24, 2008

Hellowen, Mimpi, dan Teman

Kalo akhir Januari ini yang masih ABG-seumuran kite 'dihajar' kedatangan My Chemical Romance, Nahhh yang agak 'tuaan' dikit hehehe bakal gembira ria karena bakal kedatangan Halloween. Sekalian dalam rangkaian tour album terbaru GAMBLING WITH THE DEVIL, yang dirilis 31 Oktober 2007 lalu. Pokokna para rocker tua kita akan sangat gembira, bisa nostalgia dengan band yang mengusung aliran 'Symphonic Rock Metal' ini. Kalo inget sebelumnya sukses menggelar konsernya di tiga kota Indonesia 2004 lalu, kali ini mereka didatangkan SOLUCITE (promotor yang belakangan ini sering datengin band-band metal dunia)

Konser di Tennis Indoor Senayan Jakarta, Jumat 22 Februari 2008, mulai jam 19.00 WIB. Tiket Tribun 175.rb dan Festival 200rb. Dapet bocoran personil yang bakal datang ke Indonesia, Andi Deris (vokal), Michael Weikath (gitar), Sascha Gerstner (gitar), Markus Grosskopf (bas), dan Stefan Schwarzmann (dram).
Okelah saya gak bahas banyak soal kepiawaian mereka bermusik, ntar malah dipisuh - pisuhin ahlinya Hellowen, hehehe.
TAPI, yang mau saya perjelas dan pertegas.. mungkin satu diantara ribuan fans berat Hellowen, kang jukie inilah yang bakal paling mpot-mpotan seneng + girang = alang kepalang. Soalnya band-nya bakal ditanggep buat diadu buat Opening act-nya nanti. Lolos audisi se Jawa Timur, Wah, salut dah...dibelain cuti kantor dan siaran buat goes internasional. Hehehe, nanti kan dilihat juga sama crew-nya Hellowen, jadi siapa tahu nanti kalo butuh2 additional player sapa tau rejeki nyampe ke Arch Angel (band-nya kang Juki). Saya doakan, lolos di audisi nanti.

Ahh...soal mimpi
Saat kita kecil kita punya banyak mimpi.
Saat remaja kita kejar sekuat tenaga, mimpi itu.
Saat dewasa, kita lupakan mimpi itu karena berpikir takkan sampai, karna hanya mimpi
Saat tua, kita sesali kenapa mimpi itu tidak kita gapai dan terwujud.
Hmmmphhh...tantangan itu kembali menggelora di benak saya
Mimpi saya masih banyak, Saya tidak mau sesali di usia tua nanti, kenapa tidak mengejar mimpi itu. Melihat tulisan postingan ini, Saya kembali akan bersemangat mengejar mimpi itu...Seperti kang Juki yang mengejar impiannya, dengan berangkat mengejar Helloween-nya...

Berani ??

Sunday, November 11, 2007

Andrie Wongso


Wahh, rasanya terlalu telat banget ya posting ini, tapi gak papa dah telat asal selamat. Takut ditagih pak Andrie Hehehe. Ceritanya (setelah birokrasi yg ribet) Pak Andrie Wongso Motivator Hebat 'koleksi' dalam negeri, akhirnya bisa hadir di Suara surabaya, acara Forum Komunitas pukul 21.00 WIB.

Kalo pengen tahu lengkapnya artikel, waktu mampir di SS, cek
disini.
Kalo pengen tahu, pertama kali saya ketemu pak Andrie, cek disini

Terimakasih, juga untuk pak Andrie dan mas Eko (asisten super sibuknya) dan semua crew. Salam ketemu lagi dilain kesempatan, mohon maaf atas segala kekurangan. Ohya, niatan yang dari kapan hari tertunda, entah kapan terealisasi hehehe, mau posting semua tentang orang2 top dunia bisnis, dengan tips hebat mereka. Tapi sabar, saya harus edit lebih banyak
:(

Friday, October 5, 2007

6 jam dengan Andrie Wongso

Sore itu akhirnya 'kejadian'

Ceritanya, Saya yang ngurusin acara
'TIPS WAWASAN' cuma sering berkenalan dengan nara sumber, sekedar sapa kabar via telp atau e-mail saja. Tidak semua Saya kenal secara personal, sosok utuh wujud langsung. Kali ini, Saya diundang pak Andrie Wongso, untuk menemuinya, ngobrol, dan hadir di acara seminar plus signing book terbarunya di Gramedia RoYAL Plaza Surabaya.

Tiba pas D-Day, ya ampun, saya ketiduran. Tet, bangun 15.45. Padahal sebelumnya di kontak mbak Leny, (asistennya pak Andrie di JKT) supaya datang ke radio SONORA (of course, I'can't). Trus kontak mas Eko (asisten pribadinya p.Andrie) ternyata acara mulai jam 16.00. Okelah, saya masih cukup waktu , soalnya acaranya digelar di ballrom-nya Hotel Shangrilla, jadi gak terlalu jauh.

Sudah, sampai Shangrilla. Ya ampun, hopefully I'm not in lost situation. Semua jet set itu hadir dengan muka 'kaya'. Ternyata bukan 'acara p.Andrie' saja, tapi MODERNfoto dan FUJI FILM International. Jadi perwakilan semua orang-orang FUJI datang , dari Jepang, dari sebagian Indonesia dsb.

Btw, ketemuan dgn p.Andrie. Really nice, charm, exciting, so humble. Saya kenalan, dan mengikuti acara motivasinya yang bertajuk Slim - Strong - and Spirit.
Really great motivation, ever !! Dengan semangatnya yang membara, semakin memberikan kobaran semangat juga di dada ini.

Acara mulai jam 17.00 sampai 18.10, akhirnya tuntas. Buka puasa, dengan menu lezat (sesuai perkiraan). Saya ambil
roll egg moustard caviar (mirip-mirip lumpia basah dgn telur ikan), grill meat Coune slick (daging asap dgn bumbu chilli yg pedas), trus di combine sama Fish lowder Apricoste (dada ikan salmon yang disiram kuah putih sup jamur) wahhhhh lezaaaaaaatt. nasi putih cuma sedikit hehehe. Tuntas. Ganti desert, ambil brownies tabur mente, buah semangka, nanas, dan puding segar. WAhh, rasanya perut dah gak cukup mau nambah, ENOUGH !!

Habis itu, masuk di showroomnya. Dari FUJI, RICOH, Mphoto, dsb semua pada pamer kecanggihan alat2nya. Sudah puas liatnya. Akhirnya harus ke ROYAL Plaza, ke Gramedia. Ngikutin acara penandatanganan buku terbaru p.Andrie 18 Wisdom and Succes.
Ngikutin acara yang lumayan melelahkan itu, hebat , tidak nampak sedikit pun wajah kusut atau lemas p.Andrie. Tetap antusias, semangat, dan enerjik. Hebat.

Acara, penjelasan buka, sesi tanya jawab, sesi penandatanganan buku yang beli di Gramedia, trus foto session. Semua tidak nampak raut lelah di mukanya. Padahal saya sudah nahan kantuk dan pegal di kaki.
Hingga, tiba waktunya saya harus pamitan. Mengucapkan terimaksih atas segala 'ilmu' yang sudah dibagi. P.Andrie juga pesan, sapa tahu bisa ketemu lagi di Mall Pakuwon tanggal 24 oktober ini.

tHks p.Andrie.
nice person....pengalaman yang tak terlupakan, 6 jam yang sangat berarti.