Thursday, December 4, 2008

Pilihan Tersulit ; tangisan penuh cinta

Bunga Kamboja

Bunga yang sangat lekat dalam benak saya mulai kecil, bertebaran di tanah-tanah makam..


Malam ini, sebelumnya kami tidak tahu apa yang direncanakan seluruh panitia penyelenggara acara. Tiba-tiba saja ada beberapa kuntum bunga kamboja di tiap-tiap penggalan lantai keramik khas ukiran Bali itu.


Ah, sial..... pasti ini model renungan-renungan malam yg gak jelas gitu deh. Batin saya. Saya berjanji, bahkan bersumpah, gak mau pakai nangis-nangisan segala seperti jaman saya ikut Paskibra waktu awal-awal di hari pelantikan dulu. Cemen.

Gak pakai nangis titik...!! tegas saya

Tiba-tiba, Mbak Mirna Head kota Makassar mematikan lampu (halah, gak penting).
" Teman-teman, selamat malam jelang pagi...Saya tahu semua lelah habis berjalan-jalan seharian dan diisi banyak kegiatan bersama. Karena itu saya ucapkan terimakasih karena sudah meluangkan waktunya"

Gak tahu dari arah mana, suara petikan dawai-dawai khas Cina (rasanya) tiba-tiba menjadi backing soundtrack situasi gelap itu. Hati saya masih saja bisa bercanda, menebak pemainnya adalah Kitaro.. (hehe MD diakalin).

"Ada beberapa kuntum Kamboja di depan Anda. Pilih dan ambillah satu bunga."
Kami semua menurut saja, dan memegang masing-masing satu bunga kamboja yg saya ingat banget, ini pasti yg berjatuhan di pinggiran kolam renang pagi tadi. Ya, PASTI.

"Teman, lihatlah jumlah kuntum bunga yang Anda pegang. Jumlahnya berbeda-beda. Jumlah orang-orang terkasih kita juga berbeda. Anggap jumlah itu mewakili, orang yang terdekat dengan hati Anda saat ini....bla.bla...bla.."

Saya masih menguap, ngantuk. Gak ngerti apa maksudnya. Saya hanya pilih, ANAK, ISTRI, AYAH, IBU, KAKAK.

Sampai...akhirnya suara mbak Mirna memandu kami lagi.
" Cabut satu-satu kuntum itu, bayangkan...siapa yg berani anda pertaruhkan, sampai terakhir diantara nama-nama itu, mana yang akan tetap menjadi prioritas hidup anda."

GOD.. it's really hard decission. Serta merta, air mata saya meleleh...Saya bingung harus pilih/cabut kuntum yg mana dan atas nama siapa. Mendapatkan 5 kuntum saja hati saya bingung, karena masih ada 1 Kakak saya lagi, sahabat-sahabat terdekat saya yang belum ter-cover dalam jumlah kuntum sialan itu (sial).

"Ayo beranikan, cabut mana yang berani kamu ikhlaskan....." tegas mbak Mirna.

Pertama, saya cabut kuntum KAKAK ...air mata saya meleleh di kedua pipi. Ingat masa kecil kami yg sangat benar-benar kompak tapi sekarang agak menjauh karena kesibukan masing-masing.

Kedua, saya cabut kuntum Ayah..dana pikiran saya langsung menerawang jauh, betapa susahnya dulu Ayah saya bejuang, bekerja, membesarkan Saya. Bodohnya, saya sendiri tidak ingat kapan tanggal ulang tahun Ayah saya...

3 pilihan tersulit, Ibu, Istri, dan putri saya....

Air mata saya semakin menjadi-jadi. Saya juga tidak perdulikan lagi, suara tangisan teman-teman disamping kanan-kiri dan depan-belakang saya....

Kali ini saya terisak-isak lagi...air mata rasanya menutupi seluruh pelupuk mata saya.
Saya tidak sanggup....saya tidak sanggup....untuk memilih mencabut kuntum yang mana.

Setelah sekian lama ...hening ....sepi. Hanya tangisan dan sesenggukan lirih saja. Sampai akhirnya...
" Teman...kita tidak pernah akan menyadari betapa berharganya orang lain, sampai kita benar-benar kehilangan mereka.

Jangan sampai kita kehabisan waktu memberikan kata cinta pada mereka, kasih sayang yang tulus, dan sentuhan-sentuhan yang kecil namun bermakna.

Saya yakin, kalian semua tidak sanggup mencabut semua kuntum itu...
Karena pada dasarnya kiata manusia yang baik dan penuh welas asih. Hanya kehidupan duniawi yang kadang membuat kita melupakan keberadaan mereka. Betapa pentingnya hidup mereka dan betapa bermaknanya mereka untuk keberadaan kita sampai detik ini.

Jangan lupa, rangkailah bunga-bunga itu. Jangan hanya lima, enam kuntum saja..Jadikanlah rangkaian penuh bunga, penuh kuntum yang mewakili semua orang terkasih kita. Dan jadikan hidup kita semakin berarti karena keberadaan mereka..."

...sampai acara selesai dan lampu dinyalakan pun...saya tetap menangis tersedu-sedu. Bukan hanya saya, semua....

tangisan itu...tangisan penuh cinta....

No comments:

Post a Comment