Sunday, October 19, 2008

Genma Saotome

The man who would sell his son for ramen. Genma Saotome, father of Ranma Saotome. And his curse of turning into a Panda.



Genma can translate into "dark or mysterious horse". Saotome means "rice-planting girl"

MORE PANDA!






Chinese Amazon Woman "Shampoo"

Images of Shampooo






Ranma 1/2 Videogames




1 Super NES
1.1 Ranma ½: Neighborhood Combat (Ranma ½: Chōnai Gekitōhen)
1.2 Ranma ½: Hard Battle
1.3 Ranma ½: Hidden Treasure of the Crimson Cats (Ranma ½: Akaneko-dan teki Hihou)
1.4 Ranma ½: Super Battle (Ranma ½: Chougi Rambuhen)
1.5 Ranma ½: Ougi Jaanken
2 Sega CD
2.1 Ranma ½: White Orchid Serenade (Ranma ½: Byakuran Aika)
3 PlayStation
3.1 Ranma ½: Battle Renaissance
4 Game Boy
4.1 Ranma ½: Kakuren Bodesu Match
4.2 Ranma ½: Netsuretsu Kakutouhen
4.3 Ranma ½: Kakugeki Mondou!!
5 PC Engine
5.1 Ranma ½
5.2 Ranma ½: Toraware no Hanayome
5.3 Ranma ½: Datou Ganso Musabetsu Kakutou-ryuu!
6 PC
6.1 Ranma ½: Hiryu Densetsu

Ranma 1/2 - TV Series - Season 1 - Review

Ranma 1/2 The TV Series - Season 1


[ Back of the Box Text ]

The Complete First Season Of The Hit TV Anime Series

It's not easy being teenaged martial artist Ranma Saotome, but it's even worse when your martial-artist father Genma
takes you from home at an early age to go on a decade-long training mission. He doesn't speak a word of Chinese, and
yet he insists upon bringing you to the cursed training ground known as Jusenkyo, where falling into one of the many
springs there turns you into whoever - or whatever - drowned there last. And then, the two of you have this little accident.

From now on, a splash of cold water will turn your father into a giant panda, while you, well, you turn into a re-haired
(and problematically well-built) female version of yourself. Hoy water will reverse the effect, but only until the next time.
What's a half-guy, half-girl to do?

[genre]

Anime martial Arts, Romance Comedy

[cast & crew]

Producers:
• Hidenori Taga

Creators:
• Rumiko Takahashi


[Product Information]


Features:

Scene Access
"Clean" Opening & Ending Credits

Video:

Standard 1.33:1 Color
Audio:

ENGLISH: Dolby Digital Stereo
JAPANESE: Dolby Digital Mono

Subtitles:

English
Studio: Viz Entertainment
Production Year: 2001
Release Date: 9/13/2004

Length: 450 mins

[related series]

Ranma 1/2 Seasons 2-7
Ranma OVA Series
Ranma 1/2: The Movie 1 - Big Trouble In Nekonron China
Ranma 1/2: The Movie 2 - Nihao My Concubine

[also recommended]

Tenchi Muyo
Mason Ikkoku
Please Teacher
Inuyasha

[notes]

Rumiko Takahashi born October 10, 1957, is a Japanese mangaka.

Takahashi is one of the wealthiest women in Japan.
The manga she creates (and its anime adaptations) are very popular in the United States and Europe where they have
been released as both manga and anime in English translation. Her works are relatively famous worldwide, and many of
her series were some of the forerunners of early English language manga to be released in the 1990s.
Takahashi is also the best selling female comics artist in history; well over 100 million copies of her various works
have been sold. She has twice won the Shogakukan Manga Award in 1981 for Urusei Yatsura and in 2002
for Inuyasha.

Review by tkoold123

Ranma the TV Series is a Great Collection to watch and Own, its a very Entertaining Series with Lots of Humor in many different ways, not always about Sexual humor, Ranma is a series about japanese & chinese Humor and life style, Filled with lots of Action and Entertainment the series is Very Long with about 170 Episodes, and it is not exactly serious, Every Episode Can Certainly be Extremely Entertaining to watch in Any order, though from Season to Season some Minor things progress and there is a well story in line, Most of the time each episode or group of 3-7 episodes begins and ends with itself with minor story addon's that stay.

This anime is a Mid 1980's Classic, Filled with Crazy Stories and Very Fun to watch and filled with many Varieties of Characters for every Fan of any Style of anime to Enjoy!

Rating: 8/10

[Recomended audience]

ages 10+ or any age

Welcome to the Ranma 1/2 Blog!


Very first post! Get ready for tons of cool ranma 1/2 stuff!

Friday, October 10, 2008

(efek) Laskar Pelangi

Semalam pas ON AIR, tiba-tiba dapat sms dari bini:

Sandy kasian pa..nangis terus. Aq ketok rumahnya, tnyt lg sakit. Untung obat batuknya Dva msh ada. Aq kasihkan k Sandy. plus tak kash susunya Dva.tp bkn dotnya Dva lho. kasian aja.meski miskin kan Sandy tetep pnya hak utk sehat.hehehe.habis liat Laskar Pelangi soalnya.

Sms yang membanggakan bagi Saya, sebagai suaminya..dan (jujur) saya bahagia diberi pendamping spt dia.

Tetangga pas samping rumah, (maaf) ada yang kurang mampu, atau boleh dibilang sangat miskin dan kekurangan. Meskipun dibanding kami yang juga gak berlebih-lebih amat.

Dibandingkan Deeva, Sandy nama anak balita laki yang tidak terurus, suka sakit-sakitan. Makan nasi kalau ada, susu? tentu tidak. Cuma air gula saja. Jangan ditanya pakaian, mainan, dsb yang dibandingkan Deeva (maaf bukan maksud pamer) gak ada apa-apanya.

Truss, apa hubungannya dengan Laskar Pelangi ??
Ya itu dia, habis Kamis kemarin liat...bagi kami film itu memang memberi pesan moral :
- Jangan menyerah untuk menggapai mimpi
- Dannn, meski miskin, orang berhak mendapatkan pendidikan...

Nah, bini saya mungkin terinspirasi..meski (tetangga) saya miskin, dia juga berhak untuk sehat. tanpa dibedakan dengan derajat yang lebih kaya. Kadang saja kita gak sadar, dan menganggap mereka yang 'kurang' seberuntung kita memang pantas untuk 'kekurangan'. Miskin ya miskin saja.

Tapi tidak, hari ini Laskar Pelangi juga membuka mata kami, ternyata meski miskin mereka masih berhak mendapatkan sesuatu 'hak' yang sama seperti kita. Kesehatan, Pendidikan, Kesejahteraan, Pekerjaan, dsb.

Wednesday, October 8, 2008

THE REASON FOR RESIGNATION

Such a long time ago, I've got an e-mail from mbak Iping - suarasurabaya.net . Don't know why, I keep it inside my inbox. I thought, it could be important (for me) future !!. Now days, when "that time" is too close for me, it's necessary need to read. Very inspiring, and get the message !!


+++ Mengapa KARYAWAN meninggalkan perusahaan? +++
WHY TO MOVE (OR NOT TO MOVE)

Mengapa karyawan meningggalkan perusahaan (atau paling tidak sering ngedumel)? Berikut ini petikan dari bukunya Haris Priyatna yang berjudul Azim Premji, "Bill Gates" dari India (terbitan Mizania 2007). Azim Premji adalah milyuner muslim dari India yang telah menyulap Wipro, dari sebuah perusahaan minyak goreng menjadi konglomerasi perusahaan dengan salah satunya adalah Wipro Technologies yang merupakan ikon kebangkitan industri teknologi informasi di India. Dia urutan ke-21 orang terkaya di dunia versi Forbes 2007. Azim dikenal sebagai milyuner yang bergaya hidup sederhana. Berikut ini pandangan Premji tentang mengapa karyawan betah dan tidak betah dengan perusahaan. Wipro sendiri memiliki tinkat turn-over (kepindahan) karyawan yang sangat rendah, padahal gajinya tidak lebih tinggi dibandingkan perusahaan sejenis seperti Infosys dan TCS.

Mengapa KARYAWAN meninggalkan perusahaan?
Banyak perusahaan yang mengalami persoalan tingginya tingkat pergantian karyawan. Betapa orang mudah keluar-masuk perusahaan itu. Orang meninggalkan perusahaan untuk gaji yang lebih besar, karier yang lebih
menjanjikan, lingkungan kerja yang lebih nyaman, atau sekedar alasan pribadi. Tulisan ini mencoba menjelaskan persoalan ini.

Belum lama ini, Sanjay, seorang teman lama yang merupakan desainer software senior, mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan internasional prestisius untuk bekerja di cabang operasinya di India sebagai pengembang software. Dia tergetar oleh tawaran itu. Sanjay telah mendengar banyak tentang CEO
perusahaan ini, pria karismatik yang sering dikutip di berita-berita bisnis karena sikap visionernya. Gajinya hebat. Perusahaan itu memiliki kebijakan SDM ramah karyawan yang bagus, kantor yang masih baru, dan teknologi mutakhir, bahkan sebuah kantin yang menyediakan makanan lezat. Sanjay segera menerima tawaran itu. Dua kali dia dikirim ke luar negeri untuk pelatihan. "Saya sekarang menguasai pengetahuan yang paling baru", katanya tak lama setelah bergabung. Ini betul-betul pekerjaan yang hebat dengan teknologi mutakhir.

Ternyata, kurang dari delapan bulan setelah dia bergabung, Sanjay keluar dari pekerjaan itu. Dia tidak punya tawaran lain di tangannya, tetapi dia mengatakan tidak bisa bekerja di sana lagi. Beberapa orang lain di departemennya pun berhenti baru-baru ini. Sang CEO pusing terhadap tingginya tingkat pergantian karyawan. Dia pusing akan uang yang dia habiskan dalam melatih mereka. Dia bingung karena tidak tahu apa yang terjadi. Mengapa karyawan berbakat ini pergi walaupun gajinya besar ? Sanjay berhenti untuk satu alasan yang sama yang mendorong banyak orang berbakat pergi. Jawabannya terletak pada salah satu penelitian
terbesar yang dilakukan oleh Gallup Organization. Penelitian ini menyurvei lebih dari satu juta karyawan dan delapan puluh ribu manajer, lalu dipublikasikan dalam sebuah buku berjudul First Break All the Rules.

Penemuannya adalah sebagai berikut:
Jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihatlah atasan langsung/tertinggi di departemen mereka.
Lebih dari alasan apapun, dia (atasan) adalah alasan orang bertahan dan berkembang dalam organisasi. Dan dia adalah alasan mengapa mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman, dan relasi bersama mereka. Biasanya langsung ke pesaing. Orang meninggalkan manajer/direktur anda, bukan perusahaan, tulis Marcus Buckinghamdan Curt Hoffman penulis buku First Break All the Rules. Begitu banyak uang yang telah dibuang untuk menjawab tantangan mempertahankan orang yang bagus - dalam bentuk gaji yang lebih besar, fasilitas dan pelatihan yang lebih baik. Namun, pada akhirnya, penyebab kebanyakan orang keluar adalah manajer. Kalau Anda punya masalah pergantian karyawan yang tinggi, lihatlah para manajer/direktur Anda terlebih dahulu. Apakah mereka membuat orang-orang pergi?
Dari satu sisi, kebutuhan utama seorang karyawan tidak terlalu terkait dengan uang, dan lebih terkait dengan bagaimana dia diperlakukan dan dihargai.
Kebanyakan hal ini bergantung langsung dengan manajer di atasnya.

Uniknya, bos yang buruk tampaknya selalu dialami oleh orang-orang yang bagus. Sebuah survei majalah Fortune beberapa tahun lalu menemukan bahwa hampir 75 persen karyawan telah menderita di tangan para atasan yang sulit. Dari semua penyebab stres di tempat kerja, bos yang buruk kemungkinan yang paling parah. Hal ini langsung berdampak pada kesehatan emosional dan produktivitas karyawan. Pakar SDM menyatakan bahwa dari semua bentuk tekanan, karyawan menganggap penghinaan di depan umum adalah hal yang paling tidak bisa diterima. Pada kesempatan pertama, seorang karyawan mungkin tidak pergi, tetapi pikiran untuk melakukannya telah tertanam. Pada saat yang kedua, pikiran itu diperkuat. Pada saat yang ketiga kalinya, dia mulai mencari pekerjaan yang lain. Ketika orang tidak bisa membalas kemarahan secara terbuka, mereka melakukannya dengan serangan pasif, seperti: dengan membandel dan memperlambat kerja, dengan melakukan apa yang diperintahkan saja dan tidak memberi lebih, juga dengan tidak menyampaikan informasi yang krusial kepada sang bos.

Seorang pakar manajemen mengatakan, jika Anda bekerja untuk atasan yang tidak menyenangkan, Anda biasanya ingin membuat dia mendapat masalah. Anda tidak mencurahkan hati dan jiwa di pekerjaan itu. Para manajer bisa membuat karyawan stres dengan cara yang berbeda-beda: dengan terlalu mengontrol, terlalu curiga, terlalu mencampuri, sok tahu, juga terlalu mengecam. Mereka lupa bahwa para pekerja bukanlah aset tetap, mereka adalah agen bebas. Jika hal ini berlangsung terlalu lama, seorang karyawan akan berhenti - biasanya karena masalah yang tampak remeh. Bukan pukulan ke-100 yang merobohkan seorang yang baik, melainkan 99 pukulan sebelumnya. Dan meskipun benar bahwa orang meninggalkan pekerjaan karena berbagai alasan, untuk kesempatan yang lebih baik atau alasan khusus, mereka yang keluar itu sebetulnya bisa saja bertahan, kalau bukan karena satu orang yang mengatakan kepada mereka, seperti yang dilakukan bos Sanjay: Kamu tidak penting. Saya bisa mencari puluhan orang seperti kamu.

Meskipun tampaknya mudah mencari karyawan, pertimbangkanlah untuk sesaat biaya kehilangan seorang karyawan yang berbakat. Ada biaya untuk mencari penggantinya. Biaya melatih penggantinya. Biaya karena tidak memiliki seseorang untuk melakukan pekerjaan itu sementara waktu. Kehilangan klien dan relasi yang telah dibina oleh orang tersebut. Kehilangan moril sejawat kerjanya. Kehilangan rahasia perusahaan yang mungkin sekarang dibocorkan oleh orang tersebut kepada perusahaan lain. Plus, tentu saja, kehilangan reputasi perusahaan. Setiap orang yang meninggalkan sebuah korporasi akan menjadi dutanya, entah tentang kebaikan atau keburukan. Demikian pesan Azim Premji. Bagaimana pendapat Anda (sebagai bawahan maupun atasan) ?


Hmpph ...how about you ?
Let me sure..this is the sign for me..to find Lentera Jiwa (finally)